SEMARANG – Upaya memperkuat keamanan dan literasi digital di lingkungan sekolah terus dilakukan. Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (YKKS) Semarang menggelar kegiatan Orientasi Integrasi Keamanan Online (Swipe Safe – BERDAYA) dalam Pembelajaran Sekolah Jenjang SMA/SMK pada Rabu, 4 Februari 2026. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 17.00 WIB ini dilaksanakan di Hotel Grasia Semarang, Ruang Guntur, Jalan S. Parman Nomor 29, Kota Semarang, dan diikuti oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum serta guru Informatika dari 20 SMA dan SMK di Kabupaten dan Kota Semarang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Swipe Safe yang diinisiasi oleh ChildFund Australia dengan dukungan Pemerintah Australia, dan dilaksanakan oleh YKKS Semarang. Program ini bertujuan mendorong pemanfaatan teknologi digital secara aman, bijak, dan bertanggung jawab di kalangan pelajar melalui integrasi langsung ke dalam pembelajaran sekolah.
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Wilayah 2 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Andang Fitriadi, SE, M.Si. Dalam sambutannya, Andang menyampaikan kegelisahannya terhadap maraknya kasus perundungan dan perkelahian pelajar yang terjadi di sekolah-sekolah binaannya. Ia menilai, persoalan tersebut tidak lepas dari penyalahgunaan gawai dan media sosial di kalangan remaja. “Sejak saya menjabat sebagai Kasi SMK, saya merasa memiliki beban sekaligus tugas untuk menghilangkan bullying dan perkelahian pelajar. Dari hasil analisis kami, sebagian masalah itu bersumber dari penggunaan gadget yang tidak bijak,” ujarnya.
Menurut Andang, berbagai upaya preventif sebenarnya telah diusulkan, mulai dari penanganan di tingkat sekolah hingga mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memblokir akun media sosial bermasalah serta menghapus ujaran kebencian dan ajakan negatif. Namun, ia mengakui langkah-langkah tersebut belum sepenuhnya efektif. “Upaya pencegahan di tingkat kebijakan ternyata sulit dilaksanakan secara tuntas. Pada akhirnya kami sampai pada kesadaran bahwa kontrol yang paling tepat adalah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat,” katanya. Ia pun menyambut baik kehadiran Program Swipe Safe yang dinilainya datang pada waktu yang tepat sebagai solusi untuk menanamkan kesadaran berinternet aman dan bijak di kalangan pelajar.
Selain sambutan pembuka, kegiatan ini juga diwarnai sambutan secara daring dari Fijar Hafiizh, S.E., perwakilan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sambutan turut disampaikan oleh Amelia Puspitasari, S.Psi., M.Si., selaku Kasi SMA dan SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Provinsi Jawa Tengah, Paulus Mujiran, S.Sos., M.Si., Pimpinan Proyek YKKS Semarang, serta Pritania Savitri, Koordinator Program Swipe Safe dari ChildFund International di Indonesia. Para narasumber sepakat bahwa keamanan digital perlu diintegrasikan secara sistematis dalam kurikulum agar menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan orientasi dipandu oleh Listyanti Dewi Astuti, fasilitator pembelajaran mendalam. Peserta diajak mengikuti praktik integrasi aplikasi Swipe Safe ke dalam pembelajaran, diskusi dan berbagi praktik baik antar sekolah, serta penyusunan rencana tindak lanjut integrasi di tingkat satuan pendidikan. Melalui simulasi dan latihan, guru diperkenalkan cara mengaitkan penggunaan aplikasi Swipe Safe dengan Tujuan Pembelajaran, Capaian Pembelajaran, dan Alur Tujuan Pembelajaran pada Kurikulum Merdeka, khususnya pada mata pelajaran Informatika.
Secara khusus, kegiatan ini bertujuan membekali guru dengan keterampilan praktis untuk mengintegrasikan aplikasi pembelajaran keamanan digital ke dalam proses belajar mengajar dan program sekolah. Selain itu, orientasi ini diharapkan mampu mendorong integrasi keamanan digital yang berkelanjutan sehingga pemanfaatan Swipe Safe tidak bersifat sementara, melainkan kontekstual, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan risiko daring yang dihadapi peserta didik. Kegiatan ini juga membuka ruang berbagi praktik baik antar sekolah agar pengalaman implementasi dapat saling dipelajari.
Target yang ingin dicapai dari orientasi ini antara lain meningkatnya keterampilan guru dalam mengintegrasikan pembelajaran keamanan digital, tersusunnya rencana atau strategi integrasi di tingkat sekolah, serta terbangunnya jejaring berbagi praktik baik antar SMA dan SMK peserta. Metode yang digunakan meliputi praktik integrasi pembelajaran melalui simulasi penggunaan aplikasi, diskusi kelompok untuk berbagi pengalaman, serta penyusunan rencana tindak lanjut yang disesuaikan dengan kesiapan masing-masing sekolah.
Ke depan, pelatihan ini dirancang sebagai langkah awal penguatan kapasitas guru SMA/SMK mitra. Pasca kegiatan, guru diharapkan mampu memanfaatkan aplikasi Swipe Safe secara berkelanjutan dalam pembelajaran dan melibatkan orang tua dalam menciptakan lingkungan daring yang aman bagi anak. Program ini juga akan ditindaklanjuti dengan monitoring dan evaluasi melalui pendampingan oleh fasilitator muda atau staf YKKS, guna memastikan implementasi berjalan efektif dan sesuai tujuan.
Salah satu peserta, Suhermawan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Negeri 10 Semarang, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Ia menilai integrasi Swipe Safe–BERDAYA menjadi jawaban atas kekhawatiran orang tua terhadap dampak negatif penggunaan gawai. “Saya merasa senang dan menyambut baik gagasan integrasi Swipe Safe–BERDAYA, sehingga apa yang dikhawatirkan sebagian orang tua tentang dampak negatif dan penyalahgunaan gadget bisa diminimalisir,” katanya.
Menurut Suhermawan, pendekatan yang menekankan kesadaran diri jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan regulasi. “Kontrol yang paling aman itu dimulai dari lingkup yang paling dekat dan sempit, lalu berkembang ke lingkup yang lebih luas. Daripada sepenuhnya mengandalkan pemerintah, lebih mudah jika generasi muda dibekali kesadaran, kemampuan antisipasi, dan kebijaksanaan dalam menggunakan gawai agar tidak menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri maupun orang-orang terdekat,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, YKKS bersama para pemangku kepentingan berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman yang membekali peserta didik dengan keterampilan hidup digital yang bertanggung jawab di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Penulis : Sofiatul Nadziyah, Staf Kesiswaan SMK Negeri 10 Semarang