Guru SMK Negeri 10 Semarang Mengikuti Pelatihan Aplikasi Swipe Safe-Berdaya, Perkuat Perlindungan Anak di Dunia Digital

Guru SMK Negeri 10 Semarang Mengikuti Pelatihan Aplikasi Swipe Safe-Berdaya, Perkuat Perlindungan Anak di Dunia Digital

NEWS DETAILS
SEMARANG – Sebanyak 42 guru dari 21 sekolah menengah atas dan kejuruan mitra di Kota dan Kabupaten Semarang mengikuti pelatihan mendalam penggunaan Aplikasi Swipe Safe-Berdaya pada Kamis (12/2). Kegiatan yang berlangsung di Aula SMK Negeri 1 Semarang sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sistem perlindungan anak di ruang digital yang kian kompleks. Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Rencana Kegiatan Tahunan ChildFund International di Indonesia yang bekerja sama dengan Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang serta Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

Pelatihan diikuti dua guru per sekolah dan diprioritaskan bagi guru Informatika yang sebelumnya telah mengikuti Orientasi Integrasi Keamanan Digital pada 4 Februari lalu. Kegiatan ini menjadi respons atas kondisi yang dinilai mengkhawatirkan, di mana sepertiga pengguna internet di Indonesia adalah anak-anak. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2023 menunjukkan dunia digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja, namun di saat yang sama menghadirkan berbagai risiko seperti perundungan siber, penipuan daring, pertemanan berisiko, hingga kekerasan dan eksploitasi seksual berbasis elektronik.

Pimpinan Proyek YKKS Semarang, Paulus Mujiran, S.Sos., M.Si., menegaskan urgensi pelatihan ini dalam sambutannya. Ia menilai guru dan orang tua sering kali belum memiliki kapasitas memadai untuk mengenali ancaman digital yang dihadapi anak. “Guru dan orang tua sering kali belum memiliki kapasitas memadai untuk mengenali risiko digital serta membimbing anak menggunakan internet secara aman dan bertanggung jawab. Padahal, mereka adalah pendamping utama anak di dunia maya. Melalui Swipe Safe-Berdaya, kami ingin memperkuat peran guru sebagai garda terdepan dalam membangun ekosistem digital yang aman, inklusif, dan ramah anak,” ujarnya di hadapan peserta.

Aplikasi Swipe Safe sendiri merupakan inisiatif ChildFund Australia dengan dukungan Pemerintah Australia yang kemudian dikontekstualisasikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI menjadi BERDAYA atau Berinteraksi Aman di Dunia Maya. Dalam sesi inti pelatihan yang dipandu fasilitator muda, para guru tidak hanya mempelajari konsep dan fitur aplikasi, tetapi juga mempraktikkan langsung penggunaannya. Simulasi pendampingan siswa serta strategi penyampaian materi keamanan digital kepada orang tua turut menjadi bagian penting agar implementasi di sekolah berjalan efektif.

Irma Amalia selaku PIC Program Swipe Safe YKKS menjelaskan pelatihan dirancang secara partisipatif agar guru benar-benar memahami tantangan nyata di lapangan. “Kami sengaja menghindari pendekatan ceramah satu arah. Guru diajak merefleksikan tantangan nyata yang dihadapi siswa di media sosial, lalu bersama-sama merancang respons edukatif menggunakan modul Swipe Safe-Berdaya. Banyak guru ternyata sering kewalahan menghadapi laporan siswa tentang cyberbullying atau konten tidak pantas yang mereka temui secara tidak sengaja,” ungkapnya saat ditemui di sela diskusi.

Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Andang Fitriadi, SE, M.Si., yang hadir membuka kegiatan, menekankan bahwa literasi keamanan digital merupakan investasi jangka panjang bagi generasi muda. Ia berharap guru tidak berhenti pada tahap pelatihan semata. “Ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi investasi jangka panjang bagi generasi muda Jawa Tengah. Kami berharap guru yang hadir hari ini menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing, mengintegrasikan Swipe Safe-Berdaya ke dalam pembelajaran dan aktif melibatkan orang tua dalam dialog keamanan digital,” tegasnya.

Keseriusan penyelenggara terlihat dari persyaratan teknis yang harus dipenuhi peserta. Setiap guru diwajibkan membawa laptop serta berita acara instalasi aplikasi yang telah diunduh sebelumnya. Hal ini memastikan pelatihan tidak berhenti pada teori, melainkan langsung berorientasi pada implementasi nyata. Dalam sesi praktik, para peserta tampak antusias mencoba berbagai fitur aplikasi yang dirancang interaktif dengan ilustrasi visual yang dekat dengan dunia remaja Indonesia.

Pelatihan delapan jam tersebut juga menyediakan sesi khusus untuk menyusun rencana tindak lanjut. Setiap sekolah diminta membuat jadwal implementasi di laboratorium komputer, termasuk strategi sosialisasi kepada orang tua melalui pertemuan komite sekolah maupun grup komunikasi wali kelas. YKKS berkomitmen memberikan pendampingan lanjutan setelah pelatihan guna memastikan program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Program Swipe Safe Phase II (2025–2026) di Semarang merupakan bagian dari upaya nasional melatih sekitar 140 guru dan fasilitator di Indonesia. Program ini bertujuan mendorong anak dan remaja mengadopsi perilaku perlindungan diri yang lebih kuat di dunia daring melalui pendekatan kolaboratif antara lembaga nirlaba, pemerintah, dan sekolah.

Salah satu peserta, Andhen Priyono, M.Kom dari SMK Negeri 10 Semarang, mengaku pelatihan ini membuka wawasan baru terkait pemanfaatan teknologi untuk keamanan digital siswa. “Setelah mengikuti pelatihan aplikasi ini, saya berharap dapat memahami penggunaan aplikasi secara menyeluruh serta mampu mengimplementasikannya secara efektif di lingkungan sekolah. Selain itu, pelatihan ini meningkatkan kompetensi kami dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pelayanan pendidikan yang lebih efisien,” katanya. Ia juga berkomitmen membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada rekan guru dan siswa agar manfaatnya lebih luas.

Di penghujung acara, para peserta menyatakan komitmen bersama menjadi “mitra keamanan online” bagi siswa di sekolah masing-masing. Komitmen tersebut diharapkan menjadi langkah awal membangun budaya digital yang aman dan bertanggung jawab. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang sulit dibendung, upaya kolektif semacam ini dinilai penting agar generasi muda Indonesia tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran kritis untuk melindungi diri di ruang digital yang terus berevolusi.

Penulis : Muhammad Yunan Setyawan, Waka Humas SMK Negeri 10 Semarang
OTHER NEWS
Dorong Internet Aman di Sekolah, YKKS Gelar Orientasi Integrasi Swipe Safe–BERDAYA untuk Guru SMA/SMK Semarang
05
Feb
https://smk10semarang.sch.id/dorong-internet-aman-di-sekolah-ykks-gelar-orientasi-integrasi-swipe-safe-berdaya-untuk-guru-sma-smk-semarang/

Dorong Internet Aman di Sekolah, YKKS Gelar Orientasi Integrasi Swipe Safe–BERDAYA untuk Guru SMA/SMK Semarang

SEMARANG – Upaya memperkuat keamanan dan literasi digital di lingkungan sekolah terus dilakukan. Yay...

Read More
What does meaningful collaboration look like in practice?
10
Dec
https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:7404005716300251136/

What does meaningful collaboration look like in practice?

The partnership between Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (YKKS) and ChildFund Internati...

Read More
A Partnership That Grew With the Community
05
Dec
https://www.childfund.id/blog/story-4/a-partnership-that-grew-with-the-community-15

A Partnership That Grew With the Community

On a warm morning in Semarang, Paulus Mujiran begins his day by walking through neighborhoods where...

Read More